5 Salah Kaprah tentang Jemparingan yang Sering Ditemui
Catatan pengalaman dan riset selama satu dekade mempelajari, mengajar, dan menjalani jemparingan di Yogyakarta.
Semakin lama seseorang mempelajari jemparingan, semakin terlihat bahwa apa yang dikenal masyarakat sebagai “jemparingan” sebenarnya menyimpan sejarah dan keragaman yang cukup panjang.
Di internet, kita sering menemukan cerita yang tampaknya sederhana: jemparingan berasal dari Keraton Yogyakarta, dilakukan sambil duduk bersila, menggunakan busana adat lengkap, dan selalu digambarkan dengan busur dalam posisi tertentu.
Gambaran seperti itu tidak sepenuhnya salah. Namun, jika kita melihat sejarah dan praktiknya lebih jauh, persoalannya menjadi jauh lebih menarik.
Ada tradisi yang berkembang di lingkungan keraton. Ada pula perkembangan jemparingan di masyarakat. Ada perbedaan antara gaya yang lebih tua dengan perkembangan teknik yang muncul kemudian. Bahkan cara duduk, pakaian, dan tujuan berlatih pun memiliki konteks sejarahnya masing-masing.
Tulisan ini saya susun berdasarkan pengalaman pribadi dan riset yang saya lakukan selama kurang lebih satu dekade di dunia panahan dan jemparingan di Yogyakarta.
Perjalanan saya bermula dari panahan sebagai atlet PERPANI Kota Yogyakarta, kemudian mengenal dan mendalami jemparingan bandulan, hingga sejak 2019 bergabung dengan Gandhewa Mataram, sebuah komunitas jemparingan Mataraman di lingkungan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Tulisan ini bukan untuk menyatakan bahwa satu bentuk jemparingan adalah satu-satunya yang benar.
Justru sebaliknya.
Tujuannya adalah membuka kembali ruang untuk melihat jemparingan secara lebih utuh: sebagai warisan budaya yang memiliki sejarah, konteks, perubahan, dan keragaman.
1. “Kalau Jemparingan, Gambarnya Pasti Seperti Ini”
Salah satu hal yang paling mudah ditemukan ketika mencari informasi tentang jemparingan adalah ilustrasi orang memanah dengan busur dalam posisi tegak atau diagonal.
Gambaran tersebut memang sangat dikenal dalam perkembangan jemparingan modern.
Namun, ada bentuk jemparingan Mataraman yang memiliki karakter berbeda.
Dalam tradisi yang berkembang di lingkungan Kasultanan Yogyakarta, terutama yang berkaitan dengan gaya Mataraman, busur digunakan dalam posisi horisontal.
Perbedaan posisi busur ini bukan sekadar persoalan gaya fotografi.
Ia berkaitan dengan cara memegang busur, posisi tubuh, posisi duduk, serta konteks budaya tempat praktik tersebut berkembang.
Perkembangan jemparingan di masyarakat kemudian melahirkan bentuk-bentuk lain. Salah satunya adalah jemparingan yang lebih modern, yang umumnya menggunakan busur dalam posisi tegak atau diagonal dan menempatkan sasaran secara lebih terbuka.
Kedua perkembangan tersebut mempunyai sejarah dan komunitasnya masing-masing.
Yang perlu dihindari adalah mencampurkan semuanya menjadi satu gambaran seolah-olah sejak dahulu jemparingan hanya memiliki satu bentuk.
Ketika kita sedang membicarakan sejarah, gambar yang digunakan sebaiknya juga sesuai dengan konteks sejarah yang sedang dibahas.
Inilah salah satu alasan mengapa dokumentasi visual dalam pelestarian budaya menjadi penting.
2. “Jemparingan Berasal dari Kasultanan Yogyakarta”
Ini adalah salah satu penyederhanaan yang cukup sering saya temui.
Kasultanan Yogyakarta memang mempunyai peranan penting dalam perkembangan dan pelestarian jemparingan Mataraman. Tetapi mengatakan bahwa jemparingan “lahir” bersama berdirinya Kasultanan Yogyakarta pada 1755 dapat membuat sejarah panahan Jawa menjadi terlalu pendek.
Tradisi memanah telah dikenal jauh sebelum berdirinya Kasultanan Yogyakarta.
Dalam perjalanan sejarah Jawa, panahan berkaitan dengan kehidupan kerajaan, latihan ketangkasan, pendidikan, kesenian, maupun kehidupan masyarakat. Tradisi tersebut telah berkembang dalam lingkungan Mataram dan kemudian mengalami perjalanan yang panjang setelah pembagian wilayah kerajaan.
Karena itu, jemparingan tidak tepat dipahami hanya sebagai “produk” satu keraton.
Kasultanan Yogyakarta memiliki gagrag dan tradisi jemparingan Mataraman yang berkembang dalam lingkungan budayanya sendiri. Kasunanan Surakarta juga memiliki sejarah dan perkembangan panahannya sendiri. Demikian pula lingkungan Kadipaten Pakualaman dan berbagai komunitas di masyarakat.
Dengan melihatnya seperti ini, kita tidak perlu memilih antara “ini yang asli” dan “itu yang salah”.
Yang lebih penting adalah memahami:
Dari lingkungan mana sebuah praktik berasal, bagaimana ia berkembang, dan dalam konteks apa ia digunakan.
Sejarah budaya tidak selalu berbentuk satu garis lurus.
Kadang ia lebih menyerupai aliran sungai yang bercabang, bertemu kembali, lalu membawa air yang sama ke tempat yang berbeda.
3. “Jemparingan Selalu Dilakukan Sambil Duduk Bersila”
Duduk bersila memang telah menjadi salah satu ciri yang sangat kuat dalam jemparingan yang dikenal masyarakat sekarang.
Tetapi jika kita melihat sejarah panahan Jawa secara lebih luas, posisi duduk bukanlah satu-satunya posisi memanah yang pernah dikenal.
Dalam berbagai catatan mengenai tradisi panahan di lingkungan keraton Jawa, kita menemukan praktik memanah dalam posisi yang beragam. Berdiri, setengah berdiri, bahkan praktik dari posisi tertentu yang menyesuaikan keadaan.
Artinya, posisi tubuh dalam memanah tidak selalu dapat dilepaskan dari kebutuhan, tempat, dan konteks zamannya.
Lalu mengapa posisi duduk menjadi begitu kuat dalam jemparingan Mataraman yang dikenal sekarang?
Ada berbagai penjelasan yang berkembang mengenai hal tersebut, termasuk kisah bahwa posisi duduk membantu menyamarkan latihan ketangkasan pada masa kolonial.
Kisah semacam ini menarik dan menjadi bagian dari ingatan budaya jemparingan. Namun, sebagai penulis sejarah budaya, kita juga perlu membedakan antara tradisi tutur, penafsiran, dan bukti dokumenter.
Yang jelas, posisi duduk memiliki konsekuensi teknis yang sangat menarik.
Pada jemparingan Mataraman, busur digunakan secara horisontal. Posisi ini sangat berkaitan dengan posisi tubuh pemanah ketika duduk.
Karena itu, duduk dalam jemparingan bukan sekadar “gaya duduk”.
Ia merupakan bagian dari sebuah sistem gerak yang saling berhubungan.
Dan menariknya, praktik jemparingan juga menunjukkan adanya fleksibilitas.
Ketika kondisi lapangan tidak memungkinkan untuk duduk langsung di tanah, misalnya setelah hujan, latihan dapat dilakukan dengan menggunakan kursi tanpa kehilangan esensi latihan.
Ini mengingatkan kita pada satu hal penting:
Tradisi yang hidup tidak selalu kaku.
Ia dapat beradaptasi terhadap keadaan, selama prinsip dan konteks budayanya tetap dipahami.
4. “Sejak HB I, Jemparingan Digunakan untuk Latihan Perang Prajurit Keraton”
Pernyataan ini juga sering muncul ketika sejarah jemparingan Mataraman dibahas.
Namun, konteksnya perlu diperjelas.
Setelah berdirinya Kasultanan Yogyakarta, panahan tidak dapat begitu saja disamakan dengan latihan perang bagi seluruh prajurit keraton.
Pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I, terdapat perhatian terhadap pendidikan dan pembentukan karakter keluarga kerajaan serta lingkungan bangsawan.
Salah satu bagian penting dari sejarah tersebut adalah Sekolah Tamanan, yang didirikan pada abad ke-18 di lingkungan keraton.
Dalam konteks inilah panahan menjadi bagian dari pendidikan bagi lingkungan tertentu, termasuk putra-putri Sultan dan anak-anak pejabat tinggi.
Ini berbeda dengan gambaran bahwa sejak awal jemparingan di Kasultanan Yogyakarta merupakan latihan militer bagi prajurit secara umum.
Perbedaan tersebut penting karena menunjukkan perubahan fungsi panahan.
Panahan memang memiliki akar sebagai keterampilan yang berkaitan dengan peperangan.
Namun dalam perjalanan sejarahnya, keterampilan tersebut dapat berubah menjadi bagian dari pendidikan, ketangkasan, pembentukan watak, dan kebudayaan keraton.
Di sinilah kita dapat mulai memahami salah satu sisi menarik jemparingan Mataraman.
Jemparingan tidak hanya berbicara tentang kemampuan mengenai sasaran.
Ia juga berbicara tentang bagaimana seseorang belajar mengendalikan tubuh, pikiran, perhatian, dan sikap.
5. “Jemparingan Harus Menggunakan Busana Adat Jawa Lengkap”
Ini mungkin salah satu gambaran yang paling sering membuat orang merasa jemparingan adalah sesuatu yang sulit didekati.
Bayangan tentang kebaya lengkap, beskap, kain, blangkon, dan berbagai perlengkapan adat memang sangat kuat.
Padahal, dalam sejarah praktiknya, pakaian untuk latihan tidak selalu demikian.
Latihan adalah latihan.
Pakaian yang digunakan tentu harus memungkinkan tubuh bergerak dengan baik.
Dalam berbagai lingkungan panahan Jawa, termasuk Surakarta dan Pakualaman, kita menemukan praktik penggunaan jarik atau nyamping dengan atasan yang lebih sederhana, bahkan penggunaan kaos dalam konteks tertentu.
Beskap, misalnya, merupakan busana formal. Menggunakannya untuk latihan fisik tentu berbeda dengan menggunakannya dalam upacara atau acara resmi.
Di lingkungan Gandhewa Mataram di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, tempat saya bergabung sejak 2019, praktik latihan juga mengenal pakaian yang disesuaikan dengan kebutuhan. Ada latihan dengan kaos dan celana latihan, ada pula latihan dengan nyamping atau jarik dan atasan pranakan.
Jadi, ketika seseorang ingin belajar jemparingan, tidak perlu merasa bahwa ia harus terlebih dahulu memiliki seperangkat busana adat lengkap.
Yang lebih penting adalah memahami mengapa pakaian tertentu digunakan dalam konteks tertentu.
Busana dalam jemparingan bukan sekadar kostum untuk memperindah foto.
Ia merupakan bagian dari tata budaya.
Bahkan dalam lingkungan keraton, benda-benda tertentu yang bagi masyarakat umum terlihat sebagai aksesori dapat mempunyai makna status dan kepangkatan. Keris, misalnya, tidak dapat dipahami hanya sebagai pelengkap busana semata.
Karena itu, belajar busana jemparingan sebaiknya dimulai bukan dari pertanyaan:
“Apa yang harus saya pakai?”
melainkan:
“Apa makna pakaian yang saya kenakan dalam konteks budaya ini?”
Jemparingan Lebih Besar daripada Sekadar Cara Memanah
Lima hal di atas hanyalah sebagian kecil dari banyak hal yang menarik untuk dibicarakan ketika kita mulai membuka kembali sejarah jemparingan.
Semakin dalam mempelajarinya, semakin jelas bahwa jemparingan tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu foto, satu teknik, satu pakaian, atau satu cerita asal-usul.
Ada sejarah kerajaan.
Ada pendidikan.
Ada perubahan zaman.
Ada tradisi tutur.
Ada perbedaan lingkungan budaya.
Ada perkembangan teknik.
Dan yang paling penting, ada manusia yang terus mempraktikkannya.
Karena itu, bagi saya, melestarikan jemparingan bukan berarti membekukan sebuah bentuk dari masa lalu.
Melestarikan berarti memahami apa yang diwariskan, mempraktikkannya dengan benar, menjelaskan konteksnya, lalu mewariskannya kembali kepada generasi berikutnya.
Di situlah jemparingan menjadi lebih dari sekadar olahraga tradisional.
Ia menjadi bagian dari perjalanan kebudayaan.
Dan selama masih ada orang yang mau belajar, berlatih, bertanya, meneliti, dan mewariskannya, jemparingan masih menjadi budaya yang hidup.
Budaya akan tetap hidup selama masih dipelajari, dipraktikkan, dan diwariskan.
LAMPAH: Belajar Jemparingan Mataraman
Artikel ini merupakan bagian dari upaya JEMPARINGAN.COM sebagai Rumah Pengetahuan Jemparingan Mataraman untuk mendokumentasikan, mempelajari, dan memperkenalkan jemparingan secara lebih utuh.
Dalam artikel-artikel berikutnya, kita akan membahas lebih jauh tentang sejarah, busana, teknik, filosofi, tokoh, lingkungan keraton, serta berbagai istilah yang sering digunakan dalam dunia jemparingan.
Karena untuk memahami sebuah tradisi, kita tidak cukup hanya belajar bagaimana melakukannya.
Kita juga perlu memahami mengapa ia dilakukan.